Senin, 07 Februari 2011

Budaya Bima

``Uma Lengge``

Sambori merupakan daerah puncak yang terletak di wilayah kota bima di daerah ini masih kental dengan budaya asli sambori, dimana masyarakat disana masih menggunakan bahasa asli masyarakat sambori tanpa mengalami perubahan. Sistim ke masyarakatan dan kekerabatan masyarakat, masyarakat disana masih erat dan belum masih bisa beradaptasi dengan warga pendatang. Tapi ada juga yang sudah bisa beradptasi dengan warga pendatang dan hanya warga tetrtentu saja. Masyarakat sambori mengunakan bahasa asli sambori yang digunakan sebagai bahasa percakapan sehari hari. Mata pencaharian utama penduduk desa sambori yaitu bercocok tanam yaitu menanam padi, serta umbi umbian lainya yang lokasinya mereka garap langsung di gunung gunung.
Adapun sistim kepercayaan yang di anut oleh masyarakat sambori yaitu menganut dan memegang teguh ajaran agama islam, di kepercayaan ini masih juga ada yang berbau mistik yaitu menganut kepercayaan animisme, tapi hanya masyarakat tertentu saja. Seiring perkembangan jaman, semua kepercayaan animisme itu hampir punah dan bahkan sama sekali tidak ada.
Masyarakat sambori menpunyai sejarah mengenai uma lengge yaitu sebuah rumah yang sifatnya dan bentuknya yang unik yang di gunakan masyarakat sambori  sebagai tempat penyimpanan hasil pertanian juga sebagai tempat tingal sekaligus. Uma lengge tersebut terdiri dari tiga bagian yaitu, susunan atas yang gunanya untuk menyimmpan hasil panen, bagian tengah di gunakan sebagai tempat tinggal dan susunan paling bawah yaitu sebagai tempat untuk menyimpan ternak. Uma lengge terbuat dari kayu alam setiap bilik maupun tiang uma lengge tersebut mengunakan tali akar pohon yang di gunakan sebagai pengikat atau penguat tiang tiang uma lengge. Tiang uma lengge mengunakan kayu yang di jadikan sebagai penyangga. Nilai mistik yang terdapat didalam uma lengge tersebut. Tapi dalam mewarisi nilai nilai mistik pada benda benda  dalam uma lengge tersebut,hanya satu saja anak laki-laki dari ompu dan wa’i yang bernama sama.
Pada lokasi uma lengge yang di miliki ompu usu ( yusuf ) dan wa`i obi itu juga terdapat areal yang tidak bis sembarangan di lewati, yaitu pada bagian kiri halaman uma lengge, larangan atau pantangan ini berlaku untuk semua, baik untuk warga sambori  itu sendiri juga warga pendatang.
Uma lengge memiliki bagian bagian yang terdiri atap uma, atau butu uma yang terbuat dari daun alang alang, langit langit atau taja uma  teruat dari kayu lontar serta lantai tempat tinggal terbuat dari kayu pohon pinang atau kelapa. Pada bagian tiang uma juga digunakan kayu yang di jadikan sebagai penyangga, yang fungsinya sebagai penguat setiap tiang tiang uma lengge.
Uma lengge merupakan objek budaya yang masih ada di sambori, walaupun sudah hampir punah. Seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini adalah merupakan salah satu dari uma lengge yang masih ada di sambori.
Di sambori juga memiliki asal mula sejarah uma lengge yang masih kental dengan nilai mistiknya, yaitu uma lengge yang di huni oleh ompu dan wa`i, yang konon pada uma lengge tersebut masih menyimpan benda benda yang menyimpan nilai mistik, benda benda tersebut antara lain buja yang memiliki nama masing masing yaitu lalino, dan lajaro serta la aji, dalam uma lengge itu juag terdapat se ekor anjing hitam ( Lako me`e ) yang konon sering muncul sebagai penunggu di dalam uma lengge tersebut.
Ompu yang memiliki uma tersebut sudah lama meninggal dan wa`i nya sekarang masih ada dan tinggal di rumah tersebut ompu dan wa`I ini memiliki tiga orang anak yaitu yang pertama seorang anak perempuan yang namanya Mi,a, kemudian yang kedua sama, dan ketiha Hama, ketiga anak ompu dan wa`i  inilah yang sampai sekarang masih ada yang salah satu dapat mewarisi nilai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar